Ingin Berbisnis tapi Tak Punya Modal? Bagian II

Ingin Berbisnis tapi Tak Punya Modal? Bagian II

Ingin Berbisnis Tapi Tak Punya MODAL? Bagian II

Oleh: Jonru Ginting

Misalnya saya adalah orang kaya yang sangat dermawan. Hobi bagi-bagi uang. Suatu hari, datang 3 orang pemuda ke rumah saya untuk mengajukan permintaan masing-masing.

Si A:
“Saya hendak mengadakan acara santunan yatim piatu. Tolong sedekahkan uang Rp 20 juta untuk mendanai kegiatan ini.”

Si B:
“Saya orang miskin yang tidak punya rumah. Di dekat sini ada rumah kecil yang dijual seharga Rp 200 juta. Tolong belikan rumah tersebut untuk saya.”

Si C:
“Saya orang miskin yang ingin mengubah nasib dengan cara berbisnis. Saya ingin jualan makanan di depan rumah. Tapi saya tak punya uang untuk modalnya. Jadi tolong berikan saya uang Rp 500rb untuk memodali bisnis tersebut.”

Dengan asumsi bahwa ketiga orang ini berkata jujur, maka:

Untuk A dan B, saya akan langsung mengabulkan permintaan mereka saat itu juga (tapi ingat ya, ini cuma andai-andai hehehe….)

Namun untuk C, saya tidak akan memberikan uang sepeser pun.

Lho kok gitu? Bukankah C hanya minta uang 500rb? Itu jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan permintaan A dan B, kan?

Oke, begini Sahabat. Saya akan menceritakan pengalaman sekitar tahun 2002 lalu, ketika saya masih jadi karyawan dan belum menikah. Saat itu saya punya teman tukang ojek yang tinggalnya dekat kos saya. Beliau ini sudah saya anggap abang sendiri, karena orangnya sangat baik.

Si abang ini hidupnya sangat miskin. Dia katanya ingin mengubah nasib dengan cara berbisnis.

Saya pun membantu dia dengan menyediakan uang Rp 4,5 juta untuk modal jualan kacamata di trotoar jalan.

Uang itu saya gunakan untuk membeli produk kacamata, etalase , dan beberapa peralatan lainnya.

Setelah semuanya tersedia dan siap untuk jualan, si abang ini tiba-tiba mundur. Alasannya, “Saya takut tidak laku. Lagipula saya tidak yakin bisa jualan.”

Dia berkata seperti itu ketika semua hal yang dibutuhkan untuk jualan telah saya sediakan. Modalnya dari saya semua. Tapi dia justru memutuskan untuk tidak berjualan.

Modal yang saya keluarkan pun hilang begitu saja. Terbuang sia-sia.

* * *

Kesimpulan dari KISAH NYATA di atas adalah: Uang sama sekali bukan jaminan.

Itulah sebabnya para motivator selalu berkata bahwa modal yang sebenarnya dalam berbisnis bukan uang.

Modal utama yang sebenarnya dalam berbisnis adalah:

1. KEBERANIAN untuk memulai. Seperti apapun kondisi kita, langsung mulai saja berbisnis. Mulailah menjalankan bisnis yang sesuai kemampuan kita saat ini.
Jika belum punya modal, maka pilihlah bisnis seperti dropship, makelar tanah, dan sebagainya.

Atau alternatif lain, jual saja barang di rumah Anda yang bisa dijual, seperti sofa, kulkas, dan sebagainya.

Bahkan jadi tukang parkir pun tak masalah. Yang penting niatkan itu sebagai ikhtiar untuk mengumpulkan modal.

2. MENTAL YANG KUAT. Sebab dalam proses menjalankan bisnis tersebut, kamu akan berhadapan dengan kegagalan, ditolak, berbuat salah, ditipu orang, dihina, diremehkan, bahkan kerugian hingga bangkrut pun bisa terjadi.

Hal-hal seperti di atas hanya sanggup dihadapi oleh orang-orang yang bermental kuat.

Dan faktanya, hanya orang bermental kuat yang sukses berbisnis.

* * *

Nah, kedua hal di atas merupakan modal utama di dalam bisnis manapun.

“Lho, tapi bukankah modal uang juga diperlukan?”

Betul sekali, Ferguso. Tapi seperti yang saya ceritakan di atas: Ternyata uang bukan jaminan.

Jadi berhentilah menganggap bahwa semua urusan bisnis akan beres jika modal uangnya sudah tersedia. Itu pemikiran yang sangat keliru!

Di atas sudah disebutkan bahwa salah satu modal utama dalam berbisnis adalah MENTAL YANG KUAT, kan?

Nah, kekuatan mental ini harus mulai diuji pada saat kamu BERJUANG untuk mendapatkan modalnya.

Berbisnis adalah berjuang. Jadi kalau kamu mau berbisnis, ya harus siap untuk berjuang. Termasuk berjuang untuk mendapatkan modal uangnya.

“Apakah tidak bisa jika modalnya diberikan oleh orang kaya dan dermawan? Berikan saja modal gratis pada saya. Anggap saja sedekah.”

Oke. Mari berguru pada pengalaman yang saya ceritakan di atas. Kenapa si abang dengan entengnya berkata, “Saya tidak jadi jualan,”? Ya karena bukan uang dia yang dijadikan modal. Dia tidak merasa rugi apapun jika uang tersebut terbuang sia-sia.

Pengalaman membuktikan bahwa orang yang mendapatkan modal secara gratis, maka dia akan malas menjalankan bisnisnya.

Adapun jika dia berbisnis pakai modal sendiri, apalagi jika mendapatkan uangnya dengan penuh perjuangan, maka dia akan merasa rugi jika harus kehilangan uang tersebut. Sehingga dia pun termotivasi untuk serius menjalankan bisnisnya.

Jika dia serius menjalankan bisnisnya, maka peluangnya untuk sukses di bisnis tersebut pun terbuka lebar.

Itulah sebabnya pada andai-andai di atas, saya tidak mau memberikan modal bisnis yang hanya 500rb kepada C. Padahal saya mau memberikan uang 20 juta untuk A dan 200 juta untuk B.

Saya menolak memberikan modal gratis pada C, justru karena saya ingin mendidik dia.

“Jika kamu ingin sukses berbisnis, maka silahkan berjuang dengan kekuatanmu sendiri. Jangan pernah bergantung pada bantuan orang lain.”

“Oke, sekarang saya sudah paham. Namun masih ada satu pertanyaan lagi, nih.”
Apa itu?

“Apa yang harus saya lakukan agar bisa mendapatkan modal uang untuk mulai berbisnis?”

Oke, silahkan baca jawabannya di sini.

Jonru Ginting

NB: Tulisan ini terinspirasi dari komentar beberapa orang kemarin di fan page Jonru Ginting, yang ngomel-ngomel karena ngakunya punya banyak utang, ingin gabung dengan bisnis PT BEST agar dia bebas utang bebas riba, tapi keberatan jika harus pakai modal uang.