Kiat agar Bebas Utang Bebas Riba | Bagian 4: Membantu Sesama

Kiat agar Bebas Utang Bebas Riba | Bagian 4: Membantu Sesama

Kiat agar Bebas Utang Bebas Riba. Bagian 4: Membantu Sesama

Oleh: Jonru Ginting

Awal tahun 2014, saya mengalami depresi tingkat tinggi. Bisnis saya hampir bangkrut, penghasilan nyaris nol. Padahal saya sudah beristri dan punya 2 anak yang harus dinafkahi. Saya stress, bingung harus berbuat apa. Saya merasa seperti menemukan jalan buntu dan tidak ada pintu keluar.

Pada situasi seperti itu, yang saya lakukan adalah 2 hal:

(1) Berdoa, minta pertolongan Allah. Karena saya sudah GIVE UP, merasa tidak mampu lagi berusaha. Hanya Pertolongan Allah yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

(2) Curhat ke sejumlah Sahabat yang menurut saya bisa membantu.

Untuk yang nomor 2, hasilnya tidak menggembirakan. Bahkan ada teman yang sampai memarahi dan menceramahi saya, seolah-olah saya adalah orang yang bodoh dan penuh dengan kesalahan.

Namun alhamdulillah, ada seorang teman yang ketika itu menawarkan solusi.

“Saya punya komunitas entrepreneur,” ujarnya. “Di komunitas ini tersedia layanan coaching gratis untuk para pebisnis yang sedang bermasalah. Ini nomor HP seorang teman yang bisa membantu. Coba Pak Jonru hubungi beliau.”

Maka suatu pagi, saya pun datang ke kantor orang yang katanya bisa membantu tersebut. Kantornya berlokasi di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur.

Namun saat mencari alamatnya, saya nyasar cukup jauh (waktu itu belum ada Google Map), dan terdampar di tepi kali Banjir Kanal Timur.

Di tempat itu, di pinggir jalan saya melihat seorang pemuda berkursi roda sedang memegang kertas bertuliskan, “Jual Pulsa dan Token Listrik”.

Saya sangat tertarik melihat sosok pemuda tersebut. Siapakah dia? Kok sendirian pakai kursi roda, berjualan di tempat yang tidak ramai seperti ini?

Saya menghampirinya, membeli pulsa karena pulsa saya memang sedang habis. Sambil bertransaksi, saya bertanya banyak hal tentang dirinya.

Ternyata dia bernama Karman. Kakinya lumpuh sejak lahir, ibunya sakit keras dan butuh biaya besar untuk berobat. Dia tinggal di sebuah perkampungan liar yang lumayan kumuh.

Saya pun memotret mas Karman, dan diupload di Facebook dan Instagram.

Secara tak terduga, posting ini menjadi sangat viral. Banyak sekali follower saya yang jatuh simpati pada Mas Karman. Banyak di antara mereka yang minta nomor rekening saya karena ingin membantu mas Karman.

Awalnya saya menolak, karena tak berani menjadi perantara sedekah. Takut tidak amanah.

Tapi karena banyak sekali orang yang meminta, akhirnya saya membuat penggalangan dana untuk membantu mas Karman.

Singkat cerita, saat itu terkumpul uang sekitar Rp 25 juta. Saya ketika itu membantu mas Karman hanya karena ingin membantu saja, tak lebih dan tak kurang.

Padahal saat itu, saya justru sedang butuh bantuan. Saya sedang depresi, hampir tak punya uang, hampir putus asa. Saya membantu Mas Karman di saat diri saya sendiri justru butuh bantuan.

Secara tak terduga, SETELAH ITU jumlah follower saya di Facebook meningkat sangat pesat.

Dari 36k menjadi 100k hanya butuh waktu 1 bulan. Dari 100k ke 200k hanya perlu waktu 2 pekan!

Saat itu, tiba-tiba penambahan jumlah follower saya sekitar 10k hingga 15k perhari! Padahal sebelumnya hanya sekitar 1 hingga 5 orang saja perhari.

Popularitas yang tiba-tiba meningkat sangat pesat ini menyebabkan terbukanya sejumlah pintu rezeki. Banyak orang yang menawarkan kerjasama bisnis, banyak pengusaha yang ingin beriklan di fan page Jonru. Dan seterusnya.

Alhamdulillah, masalah kesulitan keuangan saya pun teratasi, walau hasilnya tidak terlalu banyak. Yang penting, dapur keluarga bisa kembali ngebul.

* * *

Apa hikmah dari kisah nyata di atas?

Hikmahnya sesuai dengan bunyi hadits berikut:

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat….” (HR Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).

Sahabat Sekalian,

Membantu Sesama itu punya kekuatan yang sangat luar biasa. Saya SANGAT YAKIN mengenai hal ini, karena sudah berulang kali membuktikannya. Pengalaman membantu Mas Karman hanya satu di antaranya.

Intinya: Jika kita membantu kesulitan orang lain, maka Allah pun akan membantu kesulitan kita dan memudahkan urusan kita.

Dan jika kita membantu kesulitan orang lain, di saat diri kita sendiri justru sedang butuh bantuan, maka dampaknya akan jauh luar biasa!

* * *

Nah, jadi bagi Sahabat Sekalian yang sedang terlilit utang, terjerat riba, sedang mengalami kesulitan keuangan, yuk BANTU SESAMA. Lihatlah sekitar Anda. Siapa yang sedang butuh bantuan?

Bantuan tidak harus berupa uang atau harta. Contohnya seperti yang dulu saya lakukan terhadap Mas Karman. Saya hanya menggalang dana dari para follower saya. Artinya, uangnya bukan dari saya.

* * *

Sedekah vs Bayar Utang

Membantu sesama itu sebenarnya sangat mirip dengan sedekah. Atau jangan-jangan sama?

Saya sengaja tidak pakai istilah sedekah pada tulisan ini, sebab ada dalil yang menyatakan bahwa membayar utang jauh lebih utama ketimbang bersedekah.

Jika kita punya uang nganggur Rp 2 juta, dan jumlah utang kita persis Rp 2 juta, maka kita diwajibkan untuk membayar utang pakai uang tersebut, dan tidak boleh disedekahkan.

Kenapa? Karena sedekah itu sunnah, sedangkan bayar utang itu wajib. Kita harus mendahulukan yang wajib.

“Berarti kita tidak boleh bersedekah jika sedang punya utang?”

Insya Allah kita akan membahas hal ini di bagian berikutnya, ya.

STAY TUNE!

Jonru Ginting

Selain kiat di atas, tentunya kita harus BERIKHTIAR atau MENCARI UANG agar utang kita lunas. Ada banyak ikhtiar yang bisa kita lakukan. Namun ikhtiar terbaik adalah BERBISNIS.

Alhamdulillah, PT BEST Syariah telah terbukti membantu ribuan orang terbebas dari jeratan utang dan riba. Orang yang dulu hidup serba kekurangan, kini telah SUKSES dan IMPIAN TERWUJUD.

Anda Ingin MENGUBAH NASIB melalui bisnis PT BEST Syariah? Yuk Baca Info Lengkapnya DI SINI.