“Saya Karyawan yang Sibuk, Bisakah Sukses Berbisnis?”

“Saya Karyawan yang Sibuk, Bisakah Sukses Berbisnis?”

“Saya Karyawan yang Sibuk, Bisakah Sukses Berbisnis?”

Oleh: Jonru Ginting

Seorang teman menghubungi saya untuk curhat. Isi curhatnya sih panjang banget, namun intinya adalah:

“Saya seorang karyawan dengan gaji pas-pasan. Saya ingin mengubah nasib. Makanya saya suruh istri berbisnis, agar penghasilan kami bertambah. Tapi dia tidak mau. Gimana dong, Pak?”

“Lho, seharusnya kamu sendiri yang berbisnis. Sebab suamilah yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga, bukan istri.”

“Iya, Pak. Saya paham dan setuju hal itu. Tapi saya kan sibuk bekerja. Sedangkan istri di rumah saja. Tentu dia punya waktu lebih banyak untuk menjalankan bisnis.”

“What? Kamu kira istri di rumah itu hanya diam dan rebahan saja? Apalagi kamu yang katanya berpenghasilan pas-pasan, pasti tidak sanggup bayar pembantu, kan? Pasti urusan ngepel, nyuci, dst ditangani oleh istrimu, kan?”

“Iya sih, Pak. Hehehe….”

“Nah, kamu sudah tahu tentang hal itu, kok masih berasumsi bahwa istri punya banyak waktu luang di rumah? Kamu sibuk bekerja di luar sana, istrimu mungkin jauh lebih sibuk di rumah.

Kalau tak percaya, coba sesekali ganti peran jadi ibu rumah tangga. Sanggup? Saya jamin tidak sanggup!

Makanya, jangan nyuruh istri berbisnis jika dia tidak mau. Sebab mencari nafkah itu tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab istri.”

“Jadi gimana solusinya, pak?”

“Solusilnya ya… silahkan kamu sendiri yang berbisnis.”

“Tapi saya bakal sulit membagi waktu jika berbisnis sambil tetap bekerja, Pak.”

“Oke, gini aja deh. Kamu katanya ingin mengubah nasib, kan? Ingin berpenghasilan 100 kali lipat dari gajimu saat ini, kan?”

“Betul.”

“Kamu ingin punya mobil cash dan rumah cash yang beli pakai uang sendiri, kan?”

“Betul.”

“Kamu ingin melunasi utangmu yang 100 juta itu kan?”

“Betul.”

“Jika mengandalkan gaji dari pekerjaanmu yang sekarang, apakah semua impian dan kebutuhan tersebut bisa terwujud?”

“Wah, susah pak. Makanya saya mau berbisnis, agar itu semua jadi mudah.”

“Nah, jika sudah tahu seperti itu, seharusnya kamu tidak perlu bingung lagi. Silahkan langsung ACTION. Berbisnislah!”

“Saya harus langsung berbisnis dan resign sebagai karyawan sekarang juga? Padahal hasil dari bisnis belum ada? Wah, saya tidak berani seperti itu, Pak!”

“Emang siapa yang menyuruh kamu seperti itu? Jangan lebay, ah!”

“Lho, jadi gimana? Saya harus berbisnis sambil tetap jadi karyawan?”

“Iya, dong.”

“Lalu gimana cara membagi waktu, agar bisnis tidak sampai mengganggu pekerjaan saya?”

“Hm.. begini, Bro. Soal membagi waktu, itu hanya masalah teknis. Tak perlu saya ajari. Kamu akan tahu sendiri caranya, jika pola pikirmu sudah benar.”

“Maksudnya gimana?”

“Begini. Kita sekarang bicara soal SKALA PRIORITAS, ya.

Tadi kamu bilang, ‘Jangan sampai bisnis mengganggu pekerjaan kantor.’ Ini artinya: Bagi kamu pekerjaan kantor jauh lebih penting. Pekerjaan kantor adalah prioritas utama. Bisnis bukan prioritas utama, sehingga dia tidak boleh mengganggu pekerjaan kantor. Benar seperti itu, kan?”

“Ya, saat ini saya TERPAKSA menjadikan pekerjaan kantor sebagai prioritas, karena penghasilan saya hanya dari situ.”

“Oke, untuk sementara alasanmu bisa terima. Tapi ada satu pertanyaan penting, nih: KAPAN kamu akan menjadikan bisnis sebagai prioritas utama?”

“Nanti jika hasilnya sudah lebih banyak dari gaji saya.”

“Oke. Jika saat ini kamu menjadikan pekerjaan kantor sebagai prioritas utama, dan tidak mau bisnismu menganggu pekerjaan kantor, itu artinya kamu TIDAK AKAN PERNAH punya waktu untuk menjalankan bisnis.

Kalau berbisnis di tengah jam kerja, tentu tidak mungkin. Pulang kerja sudah capek. Weekend acara keluarga. Belum lagi jadwal main futsal, jadwal nonton TV, dan jadwal-jadwal lainnya yang serba padat. Semua jadwal sudah terisi sehingga tak ada waktu untuk menjalankan bisnis.

Nah, apa mungkin kamu berpenghasilan lebih besar dari gaji kantor, jika kamu tidak ada waktu untuk menjalankan bisnis?”

“Rasanya sangat mustahil, Pak.”

“Karena itu mustahil, maka selamanya kamu TERPAKSA memprioritaskan pekerjaan kantor, sehingga nasibmu pun tidak akan berubah.”

“Waduh! Kok jadinya seperti lingkaran setan, ya Pak? Bingung saya!”

“Hehehe… Tak perlu bingung. Saya berani jamin: Kamu tidak akan bingung jika MAU DAN BERANI mengubah skala prioritas.”

“Maksudnya gimana?”

“Begini, Bro. Jika misalnya kamu sedang sibuk bekerja di kantor, lalu tiba-tiba dapat telpon dari rumah bahwa anakmu sakit dan diopname di rumah sakit, maka apa yang akan kamu lakukan?”

“Tentu saja akan langsung pamit dan pulang ke rumah.”

“Padahal kamu sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas di kantor, lho. Kok bisa-bisanya langsung pamit begitu saja?”

“Iya, karena keluarga itu nomor satu, Pak. Keluarga adalah prioritas utama dalam hidup semua orang.”

“Betul sekali. Maka kesimpulannya adalah:

Jika menjadikan sesuatu sebagai prioritas, maka kita akan selalu punya waktu untuknya.

Sedangkan jika sebuah pekerjaan bukan prioritas, maka kita akan selalu punya alasan untuk tidak mengerjakannya.

Ketika menjadikan pekerjaan kantor sebagai prioritas, maka kamu tidak akan punya waktu untuk menjalankan bisnis. Sebab bagimu, saat ini bisnis bukan prioritas.

Karena itu, beranikah kamu mengubah skala prioritas dalam hidupmu?”

“Maksudnya, saya harus berhenti bekerja dan mulai berbisnis sekarang juga?”

“Tidak harus seperti itu, Ferguso. Kamu bisa tetap bekerja samabil berbisnis. Tapi yang sangat penting untuk kamu lakukan adalah MENGUBAH SKALA PRIORITAS.

Coba jadikan bisnis sebagai skala prioritas, lalu pekerjaan kantor dijadikan PEKERJAAN DARURAT yang terpaksa kamu jalani saat ini, karena belum ada sumber penghasilan lain.

Karena dianggap sebagai pekerjaan darurat, maka pasti sifatnya hanya sementara. Suatu saat kamu akan meninggalkannya.

Karena bisnis dijadikan skala prioritas, maka kamu akan selalu punya waktu untuk menjalankannya. Kamu akan selalu mencari kesempatan di sela-sela kesibukan kantor. Bahkan pulang kerja pun kamu masih menjalankan bisnis, karena bagimu dia adalah prioritas utama.

Bahkan jadwal ngumpul bareng keluarga pun rela kamu korbankan, karena bagimu berbisnis adalah prioritas utama.

Di dalam pikiranmu sudah terbayang NASIB MASA DEPAN: Suatu saat nanti, aku akan fokus berbisnis saja, dan pekerjaan kantor ini akan aku tinggalkan untuk selama-lamanya.

Berpikir seperti itu, maka kamu akan menjalankan bisnis dengan lebih serius, dan semakin serius. Kamu akan semakin fokus menjadikan bisnis sebagai SKALA PALING PRIORITAS.

Nah, jika situasinya seperti ini, apakah mungkin suatu saat nanti penghasilanmu dari bisnis jauh lebih besar keteimbang gaji saat ini?”

“Itu sangat mungkin terjadi. Saya sangat percaya dan optimis!”

“Alhamdulillah…. Berarti kini kamu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Selamat, ya.”

“Berarti kunci rahasianya pada skala prioritas, ya?”

“Betul sekali, Ferguso.”

“Tapi bagaimana cara saya membagi waktu antara bisnis dan pekerjaan kantor?”

“Duhai Ferguso! Membagi waktu itu hanya masalah teknis. Tanpa diajari pun kamu pasti bisa membagi waktu, jika memang skala prioritasmu sudah benar.”

“O gitu, ya? Alhamdulillah, saya jadi tercerahkan dan mulai paham, Pak. Tapi masih ada yang mengganjal pikiran saya nih, Pak.”

“Apa itu?”

“Jika saya menjalankan bisnis, maka pasti saya harus mengorbankan waktu bersama keluarga, harus mengorbankan jadwal tidur malam, harus begini… harus begitu. Semua itu pasti terasa sangat berat, Pak.”

“Hehehe….”

“Kok Bapak tertawa?”

“Iya, karena kamu sangat lucu! Kalau ingin jadi orang sukses, ingin mengubah nasib, maka SEGALA PENGORBANAN dan KESULITAN tersebut memang harus kamu jalani. Jika tidak berani, maka jangan harap nasibmu berubah. Jangan harap kamu bisa jadi orang sukses. Udah gitu aja.

Sekian. Terima kasih.”

Jonru Ginting